Politik

GPA: Tangkap Saiful Mujani atau Kami Jemput Paksa

JAKARTA – Ketegangan politik memanas setelah Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al Washliyah (PP-GPA), Aminullah Siagian, melontarkan ultimatum keras kepada aparat penegak hukum. Ia mendesak kepolisian segera menangkap Saiful Mujani yang diduga telah memprovokasi publik untuk melakukan makar terhadap pemerintahan sah Presiden Prabowo Subianto.

“Tangkap atau kami yang akan jemput paksa,” tegas Aminullah, Senin (6/4/2026).

Pernyataan keras ini menandai sikap frontal GPA dalam merespons viralnya video ceramah Saiful Mujani yang dinilai mengandung ajakan menjatuhkan pemerintahan secara inkonstitusional.

Aminullah menilai narasi tersebut bukan sekadar kritik politik, melainkan telah masuk kategori berbahaya karena berpotensi menghasut publik untuk melakukan pemberontakan.Ia menegaskan, organisasi yang dipimpinnya tidak akan tinggal diam terhadap setiap upaya yang mengancam stabilitas negara.

Bahkan, Aminullah menyebut puluhan ribu kader Gerakan Pemuda Al-Washliyah (GPA) di seluruh Indonesia siap bergerak menghadapi pihak-pihak yang dianggap mencoba menggulingkan pemerintahan sah.

“Kalau ada yang mencoba menjatuhkan Presiden secara inkonstitusional, kami siap menghadapinya, bahkan jika harus berperang. Ini bukan lagi soal perbedaan pendapat, tapi soal menjaga negara,” ujarnya dengan nada tegas.

Aminullah juga mengingatkan bahwa tindakan menghasut masyarakat untuk menggulingkan kekuasaan yang sah merupakan pelanggaran serius dalam hukum Indonesia.

Ia menilai, sebagai tokoh publik, Saiful Mujani seharusnya memahami batasan antara kritik dan provokasi.

“Jangan berlindung di balik demokrasi untuk menyebarkan ajakan yang merusak tatanan negara,” katanya.

Sebelumnya, jagat media sosial dihebohkan oleh beredarnya potongan video ceramah Saiful Mujani sejak Sabtu (4/4/2026).

Dalam video tersebut, ia menyatakan bahwa jalur formal seperti pemakzulan tidak efektif dan mendorong konsolidasi untuk menjatuhkan pemerintahan.

Pernyataan itu memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk GPA yang menilai ajakan tersebut sebagai bentuk nyata ancaman terhadap sistem demokrasi konstitusional.

Aminullah menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Indonesia memiliki mekanisme demokrasi yang jelas dan tidak memberi ruang bagi upaya menggulingkan pemerintahan di luar jalur hukum.

“Kalau ada ketidakpuasan, gunakan jalur konstitusional. Bukan dengan cara-cara yang justru memicu kekacauan nasional,” pungkasnya. (Red)

Terkini

PTPN IV PalmCo Raih Tiga Penghargaan Tata Kelola, Perkuat Kinerja Operasional dan Efisiensi

BANDUNG - PTPN IV PalmCo meraih tiga penghargaan dalam ajang Town Hall Meeting One PTPN…

28 Juli 2026

Irham Buana Sebut Pernyataan Ricky Anthony ‘Mendulang Air Terpercik Muka Sendiri’ soal Polemik Paripurna DPRD Sumut

MEDAN - Persoalan syarat kuorum Rapat Paripurna merupakan dinamika internal DPRD Sumut. Tidak tepat bila…

27 Juli 2026

Reses di Medan Johor, Afri Rizki Lubis Minta OPD Bergerak Cepat Respon Keluhan Warga

MEDAN – Persoalan bantuan sosial (bansos), Program Keluarga Harapan (PKH), lampu penerangan jalan umum (LPJU),…

27 Juli 2026

Jasa Raharja Perkuat Ekosistem Pelayanan melalui Sinergi dengan Pemprov dan Polda Jambi

JAMBI – PT Jasa Raharja (Persero) terus memperkuat transformasi pelayanan melalui penguatan sinergi dengan pemerintah…

27 Juli 2026

Warga Mabar Hilir Titip Harapan pada Reses DPRD Medan, Dari Banjir yang Tak Kunjung Surut hingga Layanan IKD

MEDAN – Setiap kali hujan turun, kekhawatiran selalu menyelimuti warga Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Medan…

26 Juli 2026

Zulkarnaen Serap Aspirasi Warga Medan, Persoalan Sampah hingga Bansos Jadi Perhatian

MEDAN – Tumpukan sampah yang belum terangkut, jalan lingkungan yang rusak, lampu penerangan jalan umum…

26 Juli 2026